KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan atas
kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi
kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini yang Berjudul “Perdarahan Antepartum
dan Solusio Plasenta”. Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada dosen
pengampu Herli Gustiani, SST, M,Kes dan teman-teman yang
telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari bahwa
dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, maka segala
kritik dan saran membangun dari para pembaca sangat kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata penyusun mengucapkan
terima kasih, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Sampit, 10 Mei 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
B.
Tujuan
C.
Rumusan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
A.
PERDARAHAN ANTEPARTUM
B.
SOLUSIO PLASENTA
a.
Definisi Solusio Plasenta
b.
Klasifikasi
solusio plasenta
c.
Etiologi Solusio
Plasenta
d.
Tanda dan Gejala Solusio Plasenta
e.
Patofisiologi Solusio
Plasenta
f.
Penatalaksanaan Solusio
Plasenta
g.
Komplikasi Solusio
Plasenta
BAB III
PENUTUP
A.
SIMPULAN
B.
SARAN
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Plasenta atau ari-ari ini merupakan
organ manusia yang berfungsi sebagai media nutrisi untuk embrio yang ada dalam
kandungan. Umumnya placenta terbentuk lengkap pada kehamilan < 16 minggu
dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uteri.
Letak placenta umumnya di depan/di
belakang dinding uterus, agak ke atas kearah fundus uteri. Karena alasan
fisiologis, permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga lebih
banyak tempat untuk berimplementasi.
Pada awal kehamilan, plasenta mulai
terbentuk, berbentuk bundar, berupa organ datar yang bertanggung jawab
menyediakan oksigen dan nutrisi untuk pertumbuhan bayi dan membuang produk
sampah dari darah bayi. Plasenta melekat pada dinding uterus dan pada tali
pusat bayi, yang membentuk hubungan penting antara ibu dan bayi.
Solusio plasenta atau disebut
abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan
implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari
20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh
darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta
ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan
mengakibatkan perdarahan yang hebat.
Perdarahan pada solusio plasenta
sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian
tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak
sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak
pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta
lebih berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah,
darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu
berada dalam keadaan syok.
B.
Tujuan
1.
Mengetahui Definisi Solusio Plasenta
2.
Mengetahui Klasifikasi
Solusio Plasenta
3.
Mengetahui Etiologi Solusio Plasenta
4.
Mengetahui Tanda Dan Gejala Solusio Plasenta
5.
Mengetahui Patofisiologi Solusio
Plasenta
6.
Mengetahui
Penatalaksanaan Solusio Plasenta
7.
Mengetahui Komplikasi Solusio
Plasenta
C.
Rumusan Masalah
1.
Mahasiswa Dapat Mengetahui Definisi Solusio Plasenta
2.
Mahasiswa Dapat Mengetahui Klasifikasi Solusio Plasenta
3.
Mahasiswa Dapat Mengetahui Etiologi
4.
Mahasiswa Dapat Mengetahui Tanda Dan
Gejala Solusio Plasenta
5.
Mahasiswa Dapat Mengetahui Patofisiologi
6.
Mahasiswa Dapat Mengetahui Penatalaksanaan
7.
Mahasiswa Dapat Mengetahui Komplikasi
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PERDARAHAN ANTEPARTUM
Perdarahan antepartum
adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan diatas 28 minggu atau lebih. Karena
perdarahan antepartum terjadi pada umur kehamilan di atas 28 minggu maka sering
disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester ketiga. Perdarahan
antepartum dikelompokkan sebagai berikut :
Perdarahan yang ada
hubungannya dengan kehamilan :
1) Plasenta
previa
2) Solutio
plasenta
3) Pecahnya
sinus marginalis
4) Pecahnya
vasa previa
b.
Perdarahan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan :
1) Pecahnya
varises vagina
2)
Perdarahan polipus servikalis
3)
Perdarahan perlukaan serviks
4) Perdarahan karena keganasan serviks.
Frekuensi perdarahan antepartum sekitar 3% sampai 4% dari semua persalinan.
Sedangkan kejadian perdarahan antepartum di rumah sakit lebih tinggi karena
menerima rujukan.
Penangan perdarahan antepartum memerlukan
perhatian karena dapat saling mempengaruhi dan merugikan janin dan ibunya.
Setiap perdarahan antepartum yang dijumpai oleh bidan, sebaiknya dirujuk ke
rumah sakit atau ke tempat dengan fasilitas yang memadai karena memerlukan
tatalaksana khusus.
B.
SOLUSIO PLASENTA
a.
Definisi Solusio
plasenta
Solusio plasenta adalah terlepasnya
plasenta dari tempat implantasinya yang
normal pada uterus sebelum janin dilahirkan. Pada kehamilan dengan masa gestasi
diatas 22 minggu/ berat janin diatas 500 gr.
sulosio plasenta adalah lepasnya
plasenta dari insersi sebelum waktunya.
b.
Klasifikasi
solusio plasenta
1.
Solusio
plasenta ringan : terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah
banyak akan menyebabkan perdarahan pervaginam berwarna kehitaman dan sedikit
perut agak terasa sakit atau terus – menerus agak tegang. Bagian janin masih
mudah teraba
2.
Solusio plasenta sedang : plasenta telah terlepas
lebih dari seperempat.tanda dan gejala dapat timbul perlahan/ mendadak dengan
gejala sakit perut terus – menerus lalu terjadi perdarahan pervaginam. Dinding
uterus terasa tegang terus – menerus dan nyeri tekan. Sehingga bagian janin
sukar diraba,telah ada tanda persalinan.
3.
Sulosio plasenta berat : plasenta terlepas lebih dari
dua pertiga permukaannya penderita jatuh sock dan janinnya telah meninggal.
Uterus sangat tegang, nyeri, perdarahan pervaginam, adanya kelainan pembekuan
darah dan kelainan ginjal
c.
Etiologi Solusio
Plasenta
Belum diketahui pasti faktor
disposisi yang mungkin ialah hipertensi kronik.Trauma eksternal, tali pusat
pendek, dekompresi uterus mendadak, anomali atau tumor uterus. Defisiensi gizi,
merokok, konsumsi alkohol, penyalahgunaan kokain,
d.
Tanda dan
Gejala Solusio
Plasenta
1.
Perdarahan
2.
Nyeri
intermiten/ menetap
3.
Warna darah
kehitaman dan cair
4.
Bila ostium terbuka
terjadi perdarahan dengan warna merah segar
5.
Nyeri tekan
uterus
6.
Gawat janin
7.
Persalinan
prematur
8.
Kontraksi
berfrekuensi tinggi
9.
Kematian
janin (saifuddin, 2007)
e.
Patofisiologi Solusio
Plasenta
Terjadinya sulosio plasenta dipicu
oleh perdarahan di dalam desidua basalis yang kemudian terbelah dan
meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada miometrium sehingga terbentuk
hematoma desidua yang menyebabkan : pelepasan, kompresi, dan akhirnya penghancuran
plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut.Ruptur pembuluh arteri spiralis
desidua menyebabkan hematoma retroplasenta yang akan memutuskan lebih banyak
pembuluh darah, sehingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi
plasenta.karena uterus tetap berdestensi dengan adanya janin. Uterus tidak
mampu berkontaraksi optimal untuk menekan pembulu drah tersebut.Selanjutnya
darah yang mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban
Harus dilakukan dirumah sakit dengan
fasilitas operasi sebelum dirujuk,anjurkan pasien tirah baring total dengan
menghadap kekiri, tidak melakukan senggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut. (misalnya : batuk
mengedan, karna sulit BAB)
Terapi ( Kolaborasi dengan Dokter Obgyn )
1.
Terapi Konservatif (ekspektatif)
a.
Resusitasi cairan:memperbaiki hipovolemi atau
mengatasi syok dan anemia
b.
Darah (harus diberikan darah secepatnya untuk
menghindari syok dan Anemia.
c.
Cairan : berikan cairan Nacl, RL
d.
Obat antihipertensi yg membantu pembuluh darah tetap
terbuka, obat – obatan kortikosteroid (untuk antiinflamasi, mencegah retensi Na
dan mempertahankan ketahanan kapiler)
2.
Terapi Aktif
Prinsipnya
melakukan tindakan agar anak segera dilahirkan dan perdarahan berhenti,
misalnya dengan operatif obstetrik. Langkah-langkahnya :
a. Amniotomi
dan pemberian oksitosin kemudian diawasi serta pimpin partus spontan.
b. Bila
pembukaan sudah lengkap atau hampir lengkap dan kepala sudah turun sampai Hodge
III – IV , maka bila janin hidup, lakukan ekstraksi vakum atau forsep, tetapi
bila janin meninggal, lakukanlah embriotomi.
c. Seksio
sesarea biasanya dilakukan pada:
a) Solusio
plasenta dengan anak hidup, pembukaan kecil
b) Solusio
plasenta dengan toksemia berat, perdarahan agak banyak, tetapi pembukaan masih
kecil
c) Solusio plasenta
dengan panggul sempit atau letak lintang
d) Histerektomi
dapat dipertimbangkan bila terjadi afibrinogemia dan kalau persediaan darah
atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup.
g.
Komplikasi Solusio
Plasenta
Tergantung luas plasenta yang
terlepas dan lamanya sulosio plasenta berlangsung komplikasi pada ibu ialah :
1.
Perdarahan
2.
Oliguria
3.
Gagal ginjal
4.
Gawat janin
5.
Apopleksia
uteroplasenta(uterus couvelaire)
Bila janin dapat diselamatkan dapat terjadi komplikasi :
1.
Asfiksia
2.
BBLR
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Perdarahan antepartum
adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan diatas 28 minggu atau lebih. Karena
perdarahan antepartum terjadi pada umur kehamilan di atas 28 minggu maka sering
disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester ketiga.
Solusio plasenta adalah terlepasnya
plasenta dari tempat implantasinya yang
normal pada uterus sebelum janin dilahirkan. Pada kehamilan dengan masa gestasi
diatas 22 minggu/ berat janin diatas 500gr
Sulosio plasenta adalah lepasnya
plasenta dari insersi sebelum waktunya.
B.
Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini pengetahuan
tentang masalah kebidanan di bidang Perdarahan antepartum dan solusio plasenta
dapat diatasi dan semakin menunjukkan peningkatan manajemen kebidanan. Selain
itu Perdarahan antepartum dan solusio plasenta merupakan sebuah keadaan
abnormal dimana penyebabnya masih belum diketahui secara pasti, namun masih
Keadaan pada perdarahan antepartum dan solusio
Plasenta yang masih belum mendapatkan pelayanan kesehatan secara maksimal. Hal
inilah yang diharapkan dapat berubah ke arah kemajuan dan dapat mengurangi
terjadinya keadaan abnormal pada massa kelahiran dengan diadakannya penyuluhan
kesehatan di bidang perdarahan antepartum dan solusio plasenta.
TUGAS
MAKALAH ASKEB IV (PATOLOGIS)
TENTANG
PERDARAHAN ANTEPARTUM DAN SOLUSIO PLASENTA
DOSEN
PENGAMPU : HERLI GUSTIANI, SST, M.KES

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 1
|
AFRIT
|
NETI
|
|
DESI
NOVITASARI
|
NORIKA
|
|
EKAWATI
|
RENI
HERYANTI
|
|
ETY
FATMAWATI
|
RESMIAH
|
|
FITRIA
SUNDARI
|
SITI
BARJAH
|
|
IKA
FITRIANI
|
SITI UTAMI
ANGGRIANI
|
|
MAHMUDAH
|
SRI RATIH
|
|
MARIA ULFA
|
TETI
RUSNAWATI
|
|
MELANI
PUTRI PRIANTI
|
TITI
RUSNAWATI
|
|
MELISA
|
ULPAH
|
|
MURTINI
|
|
AKADEMI
KEBIDANAN MUHAMMADIYAH KOTIM
TAHUN AJARAN
2013/2014
DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. Ida Bagus Gde Manuaba,
SpOG, 2004 “ Ilmu kebidanan penyakit
Kandungan
dan KB untuk pendidikan bidan”
Prof. Rustam Mochtar, 2004. MPH,Sinopsis
Obstetri Jilid I.
Sarwono Prawiroharjo, Jakarta,2005 “Ilmu
Kebidanan” Yayasan Bina
Pustaka.
Jakarta.
Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal,
Penerbit Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi bekerjasama
dengan JH. PIEGO (MNH) dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta,
2004.
FK UNPAD. 2004. Obstetri
fisiologi, Bandung : eleman
Mochtar, Rustam. 2003. Sinopsis
Obstetri. Jakarta : EGC
Manuaba, Ida Bagus Gde. 2004. Ilmu
Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Sarwono Prawiroharjo, Jakarta,2007 “Pelayanan
Kesehatan Maternal dan
Neonatal.
Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar