Minggu, 01 Juni 2014

MAKALAH ASKEB IV (PATOLOGIS) TENTANG PERDARAHAN ANTEPARTUM DAN SOLUSIO PLASENTA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini yang Berjudul “Perdarahan Antepartum dan Solusio Plasenta”. Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada dosen pengampu Herli Gustiani, SST, M,Kes dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, maka segala kritik dan saran membangun dari para pembaca sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata penyusun mengucapkan terima kasih, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.


Sampit,   10  Mei 2014


Penyusun














DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Tujuan
C.     Rumusan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
A.    PERDARAHAN ANTEPARTUM
B.     SOLUSIO PLASENTA
a.       Definisi Solusio Plasenta
b.      Klasifikasi solusio plasenta
c.       Etiologi Solusio Plasenta
d.      Tanda dan Gejala Solusio Plasenta
e.       Patofisiologi Solusio Plasenta
f.       Penatalaksanaan Solusio Plasenta
g.      Komplikasi Solusio Plasenta
BAB III PENUTUP
A.    SIMPULAN
B.     SARAN
DAFTAR PUSTAKA












BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Plasenta atau ari-ari ini merupakan organ manusia yang berfungsi sebagai media nutrisi untuk embrio yang ada dalam kandungan. Umumnya placenta terbentuk lengkap pada kehamilan < 16 minggu dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uteri.
Letak placenta umumnya di depan/di belakang dinding uterus, agak ke atas kearah fundus uteri. Karena alasan fisiologis, permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplementasi.
Pada awal kehamilan, plasenta mulai terbentuk, berbentuk bundar, berupa organ datar yang bertanggung jawab menyediakan oksigen dan nutrisi untuk pertumbuhan bayi dan membuang produk sampah dari darah bayi. Plasenta melekat pada dinding uterus dan pada tali pusat bayi, yang membentuk hubungan penting antara ibu dan bayi.
Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat.
Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok.

B.           Tujuan
1.         Mengetahui Definisi Solusio Plasenta
2.         Mengetahui Klasifikasi Solusio Plasenta
3.         Mengetahui Etiologi Solusio Plasenta
4.         Mengetahui Tanda Dan Gejala Solusio Plasenta
5.         Mengetahui Patofisiologi Solusio Plasenta
6.         Mengetahui Penatalaksanaan Solusio Plasenta
7.         Mengetahui Komplikasi Solusio Plasenta

C.              Rumusan Masalah
1.            Mahasiswa Dapat Mengetahui Definisi Solusio Plasenta
2.            Mahasiswa Dapat Mengetahui Klasifikasi Solusio Plasenta
3.            Mahasiswa Dapat Mengetahui Etiologi
4.            Mahasiswa Dapat Mengetahui Tanda Dan Gejala Solusio Plasenta
5.            Mahasiswa Dapat Mengetahui Patofisiologi
6.            Mahasiswa Dapat Mengetahui Penatalaksanaan
7.            Mahasiswa Dapat Mengetahui Komplikasi























BAB II
PEMBAHASAN

A.              PERDARAHAN ANTEPARTUM
Perdarahan antepartum adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan diatas 28 minggu atau lebih. Karena perdarahan antepartum terjadi pada umur kehamilan di atas 28 minggu maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester ketiga. Perdarahan antepartum dikelompokkan sebagai berikut :
Perdarahan yang ada hubungannya dengan kehamilan :
1)      Plasenta previa
2)      Solutio plasenta
3)      Pecahnya sinus marginalis
4)      Pecahnya vasa previa
b.      Perdarahan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan :
1)      Pecahnya varises vagina
2)      Perdarahan polipus servikalis
3)      Perdarahan perlukaan serviks
4)      Perdarahan karena keganasan serviks.
Frekuensi perdarahan antepartum sekitar 3% sampai 4% dari semua persalinan. Sedangkan kejadian perdarahan antepartum di rumah sakit lebih tinggi karena menerima rujukan.
Penangan perdarahan antepartum memerlukan perhatian karena dapat saling mempengaruhi dan merugikan janin dan ibunya. Setiap perdarahan antepartum yang dijumpai oleh bidan, sebaiknya dirujuk ke rumah sakit atau ke tempat dengan fasilitas yang memadai karena memerlukan tatalaksana khusus.

B.               SOLUSIO PLASENTA
a.          Definisi Solusio plasenta
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta  dari tempat implantasinya yang normal pada uterus sebelum janin dilahirkan. Pada kehamilan dengan masa gestasi diatas 22 minggu/ berat janin diatas 500 gr.
sulosio plasenta adalah lepasnya plasenta dari insersi sebelum waktunya.


b.         Klasifikasi solusio plasenta
1.       Solusio plasenta ringan : terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak akan menyebabkan perdarahan pervaginam berwarna kehitaman dan sedikit perut agak terasa sakit atau terus – menerus agak tegang. Bagian janin masih mudah teraba
2.      Solusio plasenta sedang : plasenta telah terlepas lebih dari seperempat.tanda dan gejala dapat timbul perlahan/ mendadak dengan gejala sakit perut terus – menerus lalu terjadi perdarahan pervaginam. Dinding uterus terasa tegang terus – menerus dan nyeri tekan. Sehingga bagian janin sukar diraba,telah ada tanda persalinan.
3.      Sulosio plasenta berat : plasenta terlepas lebih dari dua pertiga permukaannya penderita jatuh sock dan janinnya telah meninggal. Uterus sangat tegang, nyeri, perdarahan pervaginam, adanya kelainan pembekuan darah dan kelainan ginjal

c.          Etiologi Solusio Plasenta
Belum diketahui pasti faktor disposisi yang mungkin ialah hipertensi kronik.Trauma eksternal, tali pusat pendek, dekompresi uterus mendadak, anomali atau tumor uterus. Defisiensi gizi, merokok, konsumsi alkohol, penyalahgunaan kokain,

d.         Tanda dan Gejala Solusio Plasenta
1.         Perdarahan
2.         Nyeri intermiten/ menetap
3.         Warna darah kehitaman dan cair
4.         Bila ostium terbuka terjadi perdarahan dengan warna merah segar
5.         Nyeri tekan uterus
6.         Gawat janin
7.         Persalinan prematur
8.         Kontraksi berfrekuensi tinggi
9.         Kematian janin (saifuddin, 2007)



e.          Patofisiologi Solusio Plasenta
Terjadinya sulosio plasenta dipicu oleh perdarahan di dalam desidua basalis yang kemudian terbelah dan meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada miometrium sehingga terbentuk hematoma desidua yang menyebabkan : pelepasan, kompresi, dan akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut.Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retroplasenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah, sehingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta.karena uterus tetap berdestensi dengan adanya janin. Uterus tidak mampu berkontaraksi optimal untuk menekan pembulu drah tersebut.Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban

f.          Penatalaksanaan Solusio Plasenta
Harus dilakukan dirumah sakit dengan fasilitas operasi sebelum dirujuk,anjurkan pasien tirah baring total dengan menghadap kekiri, tidak melakukan senggama, menghindari peningkatan  tekanan rongga perut. (misalnya : batuk mengedan, karna sulit BAB)
Terapi ( Kolaborasi dengan Dokter Obgyn )
1.            Terapi Konservatif (ekspektatif)
a.       Resusitasi cairan:memperbaiki hipovolemi atau mengatasi syok dan anemia
b.      Darah (harus diberikan darah secepatnya untuk menghindari syok dan Anemia.
c.       Cairan : berikan cairan Nacl, RL
d.      Obat antihipertensi yg membantu pembuluh darah tetap terbuka, obat – obatan kortikosteroid (untuk antiinflamasi, mencegah retensi Na dan mempertahankan ketahanan kapiler)
2.            Terapi Aktif
Prinsipnya melakukan tindakan agar anak segera dilahirkan dan perdarahan berhenti, misalnya dengan operatif obstetrik. Langkah-langkahnya :
a.       Amniotomi dan pemberian oksitosin kemudian diawasi serta pimpin partus spontan.
b.      Bila pembukaan sudah lengkap atau hampir lengkap dan kepala sudah turun sampai Hodge III – IV , maka bila janin hidup, lakukan ekstraksi vakum atau forsep, tetapi bila janin meninggal, lakukanlah embriotomi.
c.       Seksio sesarea biasanya dilakukan pada:
a)      Solusio plasenta dengan anak hidup, pembukaan kecil
b)      Solusio plasenta dengan toksemia berat, perdarahan agak banyak, tetapi pembukaan masih kecil
c)      Solusio plasenta dengan panggul sempit atau letak lintang
d)     Histerektomi dapat dipertimbangkan bila terjadi afibrinogemia dan kalau persediaan darah atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup.

g.         Komplikasi Solusio Plasenta
Tergantung luas plasenta yang terlepas dan lamanya sulosio plasenta berlangsung komplikasi pada ibu ialah :
1.         Perdarahan
2.         Oliguria
3.         Gagal ginjal
4.         Gawat janin
5.         Apopleksia uteroplasenta(uterus couvelaire)
Bila janin dapat diselamatkan dapat terjadi komplikasi :
1.         Asfiksia
2.         BBLR













BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Perdarahan antepartum adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan diatas 28 minggu atau lebih. Karena perdarahan antepartum terjadi pada umur kehamilan di atas 28 minggu maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester ketiga.
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta  dari tempat implantasinya yang normal pada uterus sebelum janin dilahirkan. Pada kehamilan dengan masa gestasi diatas 22 minggu/ berat janin diatas 500gr
Sulosio plasenta adalah lepasnya plasenta dari insersi sebelum waktunya.

B.     Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini pengetahuan tentang masalah kebidanan di bidang Perdarahan antepartum dan solusio plasenta dapat diatasi dan semakin menunjukkan peningkatan manajemen kebidanan. Selain itu Perdarahan antepartum dan solusio plasenta merupakan sebuah keadaan abnormal dimana penyebabnya masih belum diketahui secara pasti, namun masih
Keadaan pada perdarahan antepartum dan solusio Plasenta yang masih belum mendapatkan pelayanan kesehatan secara maksimal. Hal inilah yang diharapkan dapat berubah ke arah kemajuan dan dapat mengurangi terjadinya keadaan abnormal pada massa kelahiran dengan diadakannya penyuluhan kesehatan di bidang perdarahan antepartum dan solusio plasenta.










TUGAS MAKALAH ASKEB IV (PATOLOGIS)
TENTANG PERDARAHAN ANTEPARTUM DAN SOLUSIO PLASENTA

DOSEN PENGAMPU : HERLI GUSTIANI, SST, M.KES



DISUSUN OLEH
KELOMPOK 1

AFRIT
NETI
DESI NOVITASARI
NORIKA
EKAWATI
RENI HERYANTI
ETY FATMAWATI
RESMIAH
FITRIA SUNDARI
SITI BARJAH
IKA FITRIANI
SITI UTAMI ANGGRIANI
MAHMUDAH
SRI RATIH
MARIA ULFA
TETI RUSNAWATI
MELANI PUTRI PRIANTI
TITI RUSNAWATI
MELISA
ULPAH
MURTINI


AKADEMI KEBIDANAN MUHAMMADIYAH KOTIM
TAHUN AJARAN 2013/2014
DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOG, 2004 “ Ilmu kebidanan penyakit
               Kandungan dan KB untuk pendidikan bidan”

Prof. Rustam Mochtar, 2004. MPH,Sinopsis Obstetri Jilid I.

Sarwono Prawiroharjo, Jakarta,2005 “Ilmu Kebidanan” Yayasan Bina
               Pustaka. Jakarta.

Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal, Penerbit Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi bekerjasama dengan JH. PIEGO (MNH) dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 2004.

FK UNPAD. 2004. Obstetri fisiologi, Bandung : eleman

Mochtar, Rustam. 2003. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC

Manuaba, Ida Bagus Gde. 2004. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.

Sarwono Prawiroharjo, Jakarta,2007 “Pelayanan Kesehatan Maternal dan
               Neonatal. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar