Minggu, 01 Juni 2014

ASUHAN NEONATUS BAYI DAN BALITA TENTANG FRAKTUR KLAVIKULA

TUGAS ASUHAN NEONATUS BAYI DAN BALITA
TENTANG FRAKTUR KLAVIKULA

DOSEN PENGAMPU : HARDIANTI APRINA,S.ST













DI SUSUN OLEH :

1.    EKAWATI                       12.11.401.01.0352
2.   FITRIA SUNDARI             12.11.401.01.0360
3.   MARIA ULFA                  12.11.401.01.0386
4.   MELANI PUTRI P             12.11.401.01.0388
5.   MELISA                          12.11.401.01.0390



AKADEMI KEBIDANAN MUHAMMADIYAH KOTIM
TAHUN AJARAN 2013/2014

A.     DEFINISI
Fraktur adalah retaknya tulang, biasanya disertai dengan cedera di jaringan sekitarnya. Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung.
Clavicula merupakan tulang yang berbentuk huruf S, bagian medial melengkung lebih besar dan menuju ke anterior. Lengkungan bagian lateral lebih kecil dan menghadap ke posterior. Ujung medial clavicula disebut extremitas sternalis, membentuk persendian dengan sternum, dan uJung lateral disebut extremitas acromialis, membentuk persendian dengan acromion. Facies superior clavicula agak halus, dan pada facies inferior di bagian medial terdapat tuberositas costalis. Disebelah lateral tuberositas tersebut terdapat sulcus subclavius, tempat melekatnya m. Subclavius, dan disebelah lateralnya lagi terdapat tuberositas coracoidea, tempat melekat lig. Coracoclaviculalis.
Clavicula adalah tulang yang paling pertama mengalami pertumbuhan pada masa fetus, terbentuk melalui 2 pusat ossifikasi atau pertulangan primer yaitu medial dan lateral clavicula, dimana terjadi saat minggu ke-5 dan ke-6 masa intrauterin. Kernudian ossifikasi sekunder pada epifise medial clavicula berlangsung pada usia 18 tahun sampai 20 tahun. Dan epifise terakhir bersatu pada usia 25 tahun sampai 26 tahun.

B.      ETIOLOGI
Faktor predisposisi fraktur klavikula adalah :
a.    Bayi yang berukuran besar
b.    Distosia bahu
c.    Partus dengan letak sungsang
d.    Persalinan traumatic
e.    Gejala (A. Samik Wahab, 2000)

Jenis fraktur pada trauma lahir ini umumnya jenis fraktur greenstick, walau kadang kadang dapat juga terjadi suatu fraktur total secara klinis fraktur jenis greenstick sering tidak diketahui segera setelah bayi lahir, tetapi baru ditemukan 1 – 2 mg kemudian setelah teraba adanya pembentukan kalus.
Beberapa gejala klinis fractur klavicula greenstick :
a.    Gerakan tangan kanan dan kiri tidak sama.
b.    Refleks moro asimetris.
c.    Bayi akan menangis pada perabaan kalvicula.
d.    Gerakan pasif tangan yang sakit.
e.    Riwayat persalinan yang sukar.


C.     PENATALAKSANAN
Fraktur klavikula dapat di atasi dengan pemasangan balutan klavikula berbentuk angka delapan. dengan cara dari pundak kanan pembalut di silangkan dari punggung ketiak kiri, selanjutnya dari ketiak kiri ke depan dan ke atas pundak kiri. Dari pundak kiri disilangkan lagi ke ketiak kanan lalu ke pundak kiri. Demikian seterusnya dan akhirnya dengan sebuah peniti di kaitkan di ujung pembalut pada bagian bawahnya. Bentuk ini akan mengekstensikan bahu dan meminimalkan besarnya tumpang tindih fragmen fraktur.
Imobilisasi bayi dan informasikan keluarga atau orang tua untuk tidak sering mengangkat bayi teutama ekstrmitas atas untuk mencegah komplikasi. (Aston, 1983: 66)
Bayi tetap di berika ASI yang dapat di lakukan dengan berbaring. Jika semua pelaksanaan sudah dilakukan tetapi tidak ada kemajuan dan perubahan maka segera lakukan Rujukan




D.       MEKANISME RUJUKAN
1.    Penemuan masalah
Penemuan neonatus,bayi dan balita yang tidak dapat ditangani oleh bidan , maka segera dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan.
2.   Penentuan tingkat kegawatdaruratan pada tingkat bidan desa / puskesmas
Penentuan tingkat kegawatdaruratan kasus sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab tenaga kesehatan pada tingkatannya serta penentuan kasus yang dapat ditangani sendiri dan kasus yang harus dirujuk.
3.        Pemberikan informasi kepada penderita dan keluarga
Pemberian informasi mengenai kondisi atau masalah bayi yang akan dirujuk kepada orangtua atau kelurga bayi, sehingga orangtua atau keluarga memahami kondisi bayi.
4.   Pengiriman informasi pada tempat rujukan yang dituju
a.   Memberitahukan kepada petugas di tempat rujukan bahwa akan ada penderita yang dirujuk
b.  Meminta petunjuk pelayanan yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan dan selama dalam perjalanan ke tempat rujukan
c.   Meminta petunjuk dan cara penanganan untuk menolong penderita bila penderita tidak mungkin dikirim
5.        Persiapan penderita (BAKSOKUDA)
a.       B (Bidan)
Pastikan ibu/ bayi/ klien didampingi oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan kegawatdaruratan
b.      A (Alat)
Bawa perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan seperti spuit, infus set, tensimeter dan stetoskop
c.       K (keluarga)
Beritahu keluarga tentang kondisi terakhir ibu (klien) dan alasan mengapa ia dirujuk. Suami dan anggota keluarga yang lain harus menerima ibu (klien) ke tempat rujukan.
d.      S (Surat
Beri sura ke tempat rujukan yang berisi identifikasi ibu (klien), alasan rujukan, uraian hasil rujuka, asuhan atau obat-obat yang telah diterima ibu
e.       O (Obat)
Bawa obat-obat esensial yang diperlukan selama perjalanan merujuk
f.       K (Kendaraan)
Siapkan kendaraan yang cukup baik untuk memungkinkan ibu (klien) dalam kondisi yang nyaman dan dapat mencapai tempat rujukan dalam waktu cepat.
g.      U (Uang)
Ingatkan keluarga untuk membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat dan bahan kesehatan yang diperlukan di tempar rujukan
h.      DA (Darah)
Siapkan darah untuk sewaktu-waktu membutuhkan transfusi darah apabila terjadi perdarahan
6.        Pengiriman Penderita (Ketersediaan sarana kendaraan)
Untuk mempercepat pengiriman penderita sampai ke tujuan, perlu diupayakan kendaraan/sarana transportasi yang tersedia untuk mengangkut penderita

ASKEB GSR : Nn. A umur 22 tahun dengan FLOUR ALBUS


BAB I
PENDAHULUAN


1.1        Latar Belakang
Leukorea bukan penyakit tetapi merupakan gejala penyakit, sehingga sebab yang pasti perlu ditetapkan. Oleh karena itu untuk menentukan penyakit dilakukan berbagai pemeriksaan cairan yang keluar tersebut. Lakukan sebagai gejala penyakit dapat ditentukan melalui berbagai pertanyaan yang mencakup kapan dimulai, berapa jumlahnya, apa gejala penyertanya (gumpalan atau encer, ada luka disekitar alat kelamin, pernah disertai darah, ada bau busuk, menggunakan AKDR), adakah deman, rasa nyeri di daerah kemaluan. Dan untuk memastikan perlu dilakukan pemeriksaan fisik umum dan khusus, pemeriksaan laboratorium rutin dan pemeriksaan terhadap leukorea.  Pemeriksaan terhadap leukorea mencakup pewarnaan gram (untuk infeksi bakteri), prepanat basah (infeksi trikomonas), preparat KOH (Infeksi bakteri), preparanat basah (infeksi trikomonas), preparat KOH (infeksi jamur) dan pap smear atau untuk menentukan adanya sel ganas (Manuaba, 1999).
Pada wanita disarankan untuk tidak menganggap remeh atau biasa dengan adanya pengeluaran cairan “leukorea” sehingga dianjurkan pemeriksaan khusus atau rutin sehingga dapat menetapkan secara dini penyebab leukorea.

1.2        Tujuan
1.2.1        Tujuan Umum
Setelah pembelajaran klinik kebidanan mahasiswa mendapatkan pengalaman nyata dalam melaksanakan Asuhan kebidanan pada gangguan reproduksi pada Ny. A dengan leukhorea dengan menggunakan 7 langkah Varney.

1.2.2        Tujuan Khusus
1.2.2.1  Dapat melakukan pengkajian data sampai evaluasi pada gangguan reproduksi pada Ny. A dengan leukhorea dengan menggunakan 7 langkah Varney
1.2.2.2  Dapat menganalisa kesenjangan antara teori dengan praktek
1.2.2.3  Dapat memberikan alternatif pemecahan masalah bila ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktek
1.2.2.4  Dapat mendokumentasikan hasil Asuhan dengan menggunakan 7 langkah Varney

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1        Pengertian
Leukorea atau flouralbus atau keputihan adalah cairan yang keluar dari vagina yang bersifat berlendir dan bukan merupakan darah.
Secara alamiah wanita mengeluarkan cairan dari alat kelaminnya yang berasal dari :
1.      Transudat dinding vagina
2.      Lendir servik
3.      Lendir kelenjar kartholini dan skene (Manuaba, 1999 : 98).

2.2        Jenis-jenis
2.2.1        Leukorea Fisiologis (normal)
Dapat terjadi pada masa menjelang dan sesudah menstruasi, pada sekitara fase sekresi antara hari ke 10-16 menstruasi. Juga terjadi pada pasangan sexual
2.2.2        Leukorea Abnormal
Dapat terjadi pada semua infeksi alat kelamin (infeksi labia, liang senggama, mulut rahim, rahin dan jaringan penyangganya serta pada infeksi penyakit hubungan kelamin) (Manuaba, 1999 : 99).

2.3        Etiologi
2.3.1        Konstitusional
Pada keadaan ocheni, anemia, nepritis dan pada bendungan umum (Decompensatio, cordis, cerosis, hepatitis)
2.3.2        Kelainan endokrin
Seperti pada fungsional bleeding (kadar estrogen tinggi). Pada kehamilan (karena hidraemia dan pengaruh endokrin)
2.3.3        Infeksi
2.3.3.1  Vulvitis-vulva vaginitis
2.3.3.2  Vaginitis (kolpitis)
2.3.3.3  Cervivitis
2.3.3.4  Endometritis
2.3.3.5  Salpingitis
2.3.4        Sebab-sebab lain seperti
2.3.4.1  Corpus allienum :  Possarium, Rambut kemaluan, Rambut Wol, Kain atau kapas
2.3.4.2  Alat-alat atau obat-obat kontrasepsi
2.3.4.3  Fitula (Fistula vesicovaginalis, Fistula Fectovaginalis)
(Sulaiman, 1981 : 117)

2.4        Asal Flour Albus
2.4.1        Vulva
2.4.1.1  Secret dalam vulva dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar bartholini dan skene. Secret ini bertambah pada perangsangan, misalnya sewaktu coitus
2.4.1.2  Jika kelenjar-kelenjar tersebut meradang misal karena infeksi maka secret berubah jadi flour
2.4.2        Vagina
2.4.2.1  Vagina tidak mempunyai kelenjar dan dibasahi oleh cairan transudat dan oleh lendir dari servik
2.4.2.2  PH dalam vagina + 5 disebabkan karena kegiatan hasil diderlein yang mengubah glukogen yang terdapat dalam epitel vagina menjadi acidum lacticium
2.4.3        Cervik Uteri
2.4.3.1  Secret servik yang normal bersifat jernih, liat dan alkalis. Secret ini dipengaruhi hormon-hormon ovarium baik kwalitas atau kualitasnya
2.4.3.2  Secret bertambah pada Infeksi (cervicitis) yang dipermudah kejaidannya oleh robekan servix dan tumor servik
2.4.4        Corpus uteri
2.4.4.1  Hanya menghasilkan secret pada fase post ovulator
2.4.4.2  Secret bertambah pada endometritis akut, jika ada sisa placenta polip mioma submucosa dan carcinoma
2.4.5        Tuba
Walaupun jarang mengeluarkan fluor albus, kadang-kadang terjadi pada hydrosalpinx profluens



2.5        Diagnosis
Diagnosa sebab flour albus dapat dicari dengan memperoleh :
2.5.1        Anomnesa apakah ada partner dengan gonarhoe
2.5.2        Keadaan umum
2.5.3        Pemeriksaan dalam
2.5.4        Pemeriksaan mikrobiologis dan bakteriologis
2.5.4.1  Cairan seperti susu biasanya berasal dari vagina
2.5.4.2  Cairan yang liat muco purulent berasal dari servix
2.5.4.3  Cairan yang purulent biasanya disebabkan gonococcus
2.5.4.4  Cairan yang membuil oleh trichomonas
2.5.4.5  Zat seperti keju oleh monilia biasanya gatal
2.5.4.6  Cairan yang jernih terdapat pada astheni
2.5.4.7  Flour bercampur darah terdapat pada endometritis senilis
Cairan tersebut daitas luar biasa jika :
a.       Menimbulkan bercak-bercak pada celana (berwarna kuning atau hijau)
b.      Berbau
c.       Menyebabkan keluhan-keluhan seperti perasaan gatal dan panas pada vagina

2.6        Komplikasi
Komplikasi fluor Albus adalah puritis, eksema, Candylomata acuminata sekitar vulva,

2.7        Terapi
Tergantung dari etiologi
(Manuaba, 1999 : 101)

 
BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI
 Nn. A UMUR 22 TAHUN DENGAN LEUKHOREA

Tanggal/ jam : 13-05-2014/15.00 WIB
Oleh            : Fitria Sundari                    Bidan         :BIDAN SUHARNI.Amd.Keb
Tempat        : BPS SUHARNI.Amd.Keb                     Diagnosa      : Leukhorea

3.1        PENGKAJIAN
Tanggal/ jam : 13-05-2014/15.00 WIB
A.    Data Subyektif
1.      Identitas Pasien
Nama              :                                    Ny. A                  
Umur               :                                    22 tahun              
Suku/ bangsa    :                                    Jawa/ Indo           
Agama             :                                    Islam                   
Pendidikan       :                                    SLTA                   
Pekerjaan         :                                    IRT                     
Alamat             :                                    Gemolong

2.      Alasan Masuk
Klien mengatakan mengalami keputihan gatal dan kulit vagina kemerahan

3.      Riwayat Obstetri
-          Menarche         : + 14 tahun
-          Siklus Haid       : 28 hari
-          Lamanya          : 7 hari
-          Keluhan           : tidak ada

4.      Riwayat Perkawinan
-          Nikah                        : 1 kali
-          Lama Perkawinan       : 1 tahun
-          Jumlah anak               : belum

5.      Riwayat KB
-          Metode yang digunakan        : -
-          Lamanya                    : -
-          Keluhan                     : -

6.      Riwayat Kesehatan
a.      Riwayat kesehatan sekarang
-          Keluhan Utama
Ibu mengatakan mengalami keputihan, gatal dan kulit vagina kemerahan.
-          Riwayat penyakit yang diderita
Ibu mengatakan mengeluarkan cairan putih, banyak, kental dan berbau dari kemaluannya sejak 1 minggu ini
-          Pengobatan yang pernah didapat
Pasien mengatakan tidak pernah mendapatkan secara medis
-          Alergi terhadap obat
Pasien mengatakan tidak alergi terhadap obat apapun
b.      Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular seperti HIV, AIDS, Hepatitis, TBC, dll dan penyakit menurun seperti Asma, Hipertensi dan jantung
c.      Riwayat penyakit dalam keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit menular, menahun, atau menurun

7.      Keadaan Psikososial
Tidak ada

8.      Data kebiasaan sehari - hari
a.     Nutrisi                : 3 x/hari, 1 porsi, selang - seling
b.    Eliminasi              : BAB 1 x/hari, BAK 4 – 5 x/hari
c.     Istirahat              : + 7 – 8 jam/hari
d.    Seksual                : + 3 x/minggu


B. Data Obyektif
1.     Pemeriksaan Fisi
a.    Keadaan Umum  : baik
b.    Kesadaran : Composmentis
c.    Vital Sign           : TD  : 110/80 mmHg        N  : 80 x/ menit
          S     : 370 C                      R  : 24x/ menit
d.    Inspeksi
1)   Kepala dan leher
-           Rambut        : warna hitam, bersih, pertumbuhan baik, kulit kepala : tidak ada lesi
-           Mata  : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, tidak ada sekret
-           Mulut : bersih, gigi tidak ada caries, tidak ada karang gigi
-           Leher  : tidak ada pembengkakan pembuluh limfe dan kelenjar tyroid
-           Genetalia : tidak ada oedema, tidak ada varices, ada pengeluaran pervaginam berupa cairan putih, kental, berbau, kulit vagina agak kemerahan
e.    Palpasi
-           Payudara        : bentuk simetris, tidak ada massa, puting susu menonjol
-            Abdomen      : bentuk simetris, tidak ada luka bekas operasi
f.     Auskultasi
Tidak dilakukan
g.    Perkusi
Tidak dilakukan

3.2        INTERPRETASI DATA
                   Tanggal/ jam: 13-05-2014/15.00 WIB

a.       Diagnosa Kebidanan
Nn. A umur 22 tahun dengan leukhorea
Dasar :
S       :                Ibu mengatakan mengeluarkan cairan putih, banyak, kental dan berbau dari kemaluannya sejak 1 minggu ini
O      :                KU : baik                            Kesadaran : composmentis
                         VS  :     T  : 110/80 mmHg   S  : 370 C               N  : 80x/ m  R  : 24 x/ m
                             PPV  : cairan putih, kental, berbau
                         Kulit      : kemaluan kemarahan
b.  Masalah    
Gangguan rasa nyaman

3.3        DIAGNOSA POTENSIAL dan ANTISIPASi
Terjadi atau kelainan ginekologik pada organ genetalia internal ibu
Antisipasi : Lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mendeteksi adanya infeksi

3.4        TINDAKAN SEGERA
Kalaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi

3.5       INTERVENSI
1.     Jelaskan pada Ibu tentang terjadi leukorea dan komplikasi yang kemungkinan terjadi
2.     Ajari ibu untuk menjaga vulva hygiene yang benar
3.    Anjurkan Ibu untuk menggunakan celana dalam yang menyerap keringat dan ganti celana dalam setiap 2 x/hari
4.    Anjurkan Ibu tidak melakukan hubungan seksual selama pengobatan
5.    Anjurkan ibu untuk mengambil hasil pemeriksaan papsmear 3 hari lagi
6.    Lanjutkan terapi dokter
R// : Amoxillin 500 gr 3 x 1 tablet/hari
R// : Tricodazole 3x1 tablet / hari
R// : Nistafin tablet pervaginam 1 x 1 sebelum tidur malam

3.6        IMPLEMENTASI
1.     Menjelaskan pada Ibu tentang terjadi leukorea dan komplikasi yang kemungkinan terjadi
2.    Mengajari ibu untuk menjaga vulva hygiene yang benar
3.    Menganjurkan Ibu untuk menggunakan celana dalam yang menyerap keringat dan ganti celana dalam setiap 2 x/hari
4.    Menganjurkan Ibu tidak melakukan hubungan seksual selama pengobatan
5.    Berkolaborasi dalam pemberian terapi dokter
R// : Amoxillin 500 gr 3 x 1 tablet/hari
R// : Tricodazole 3x1 tablet / hari
R// : Nistafin tablet pervaginam 1 x 1 sebelum tidur malam
6.    Anjurkan pada ibu untuk kontrol 3 hari lagi dan mengambil hasil pemeriksaan pap smear untuk mengetahui perkembangan kesehtannya




3.7        EVALUASI
1.     Ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan
2.    Ibu bersedian melakukan vulva hygine
3.    Ibu bersedia untuk mengganti celana dalamnya
4.    Ibu bersedia untuk tidak melakukan hubungan seksual
5.    Terapi sudah diberikan
6.    Ibu bersedia untuk kontrol 3 hari lagi


DATA PERKEMBANGAN

Tanggal / jam : 16-05-2014/19.00 WIB

S   :  Ibu mengatakan ingin kontrol dan mengambil hasil pemeriksaan papsmear
Ibu mengatakan sudah tidak mengeluarkan cairan keputihan dari kemaluannya dan tidak gatal – gatal lagi
O  :  KU : Baik
        Kesadaran : Composmentis
VS  :   T  : 110/80 mmHg   S  : 370 C        : 84 x/ menit        R  : 20 x/ menit
Pengeluaran pervaginam tidak ada, tanda – tanda infeksi vagina tidak ada
A  :  Ny. A umur 22 tahun dengan leukhorea teratasi sementara
P  :  -    Beri Penjelasan pada ibu tentang hasil pemeriksaan papsmear
­   Anjurkan Ibu menjaga personal hygiene terutama daerah genetalia
­   Anjurkan Ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi
­   Berikan terapi obat pada ibu
·         Tricodazol         3 X 1
·         Vit-C     3x1
­   Anjurkan Ibu untuk melakukan pemeriksaan papsmear 6 bulan lagi